Mencari Pejuang Geger Cilegon yang Terlupakan, KH Arsyad Thawil

http://www.helldy.com

Di Banten, tak banyak yang kenal siapa KH Arsyad Thawil. Namanya tenggelam setelah Belanda membuangnya ke Menado Sulawesi Utara pasca Geger Cilegon 1888. Namun di Menado ulama besar ini terus berkiprah, kemudian ditokohkan.

Namanya diabadikan menjadi nama masjid dan haulnya diperingati besar-besaran.Bulan Desember 1945 lalu, dalam rapat akbar di alun-alun Serang, Bung Karno memulai pidatonya dengan kata-kata berikut;

“Wahai putera-puteri Banten, tahukah kalian bahwa di Banten pernah ada seorang pahlawan besar, siapa dia? Dia adalah Kiyai Haji Moechammad Arsyad Thawil!”

Mendengar ucapan tersebut hadirin menyambut dengan sorak bergemuruh. Namun sambutan yang spontan itu tidak lantas menjadi perhatian lebih lanjut.
Pemerintah melalui dinas terkait tidak ada niatan untuk menelusuri para pahlawan yang dibuang karena perlawanannya terhadap penjajah.

Murid kesayangan syeikh Nawawi itu pun tak berjejak dan hilang tak berbekas. Sejarahnya di Banten terputus. Tak banyak orang - selain sejarahwan - yang tahu dan terus mencari jejak-jejaknya di pengasingan.

KH Arsyad Thawil dilahirkan di Desa Lempuyang, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang. Namun untuk tanggal serta tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti. Beberapa keturunan beliau yang tinggal di Cilegon dan Anyer juga tidak mengetahui secara pasti kelahiran beliau.

Dalam buku biografi Wahai Putera Putera Banten yang ditulis HM. Yoesoef Effendi, pun tidak dijelaskan kapan ia lahir. Ilmu agama Arsyad diperoleh dari ayahnya sendiri, Imam Arsy’ad, yang memang memiliki pesantren yang cukup banyak memiliki santri dari seluruh penjuru tanah air.

Setelah memilik cukup pengatahuan agama dari ayahnya, pada usia 16 tahun ia berguru pada Syech Abd. Gani yang juga teman ayahnya. Saat gurunya berangkat ke Mekah ia pun turut serta dan menuntut ilmu.

Di sana ia juga berguru kepada Syeikh Nawawi. Hingga kemudian kembali ke Banten dan menjadi tokoh utama, otak dibelakang pemberontakan Geger Cilegon 1888 yang dikomandani Ki Wasyid.

Sehingga, ia menjadi ulama paling dicari oleh Belanda pada masa itu. Kemudian saat tertangkap di Kopo, Gunung Sari, ia dibuang ke Kema kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Namun perjuangannya tidak sampai di situ saja, pasca diasingkan ia masih melakukan pergerakan dan menjadi penyebar agama Islam di basis nasrani di Indonesia tersebut.

Kiprah KH Arsyad Thawil di Manado Sulawesi Utara memang tidak hanya berlaku sebagai tahanan saja. Dengan keluhuran ilmu pengetahuan agama, ia ditokohkan. Tak kurang ratusan ulama di Menado, Gorontalo, Ambon, Poso dan lain-lainnya belajar kepada beliau.

Ia pun diakui sebagai salah satu pembawa Islam ke wilayah mayoritas pemeluk nasrani tersebut. Bahkan dia menikahi anak pendeta bernama, Liena Runtu.

Dari catatan sejarah tersebut, tokoh masyarakat cilegon yang dipimpin oleh Helldy Agustian mencoba menelusuri jejak beliau di Sulawesi Utara- dari mulai Komo Luar, Kota Manado, Air Medidi, hingga tempat beliau dipenjara buatan Portugis di Kema, Kabupaten Minahasa Utara - dari Jum’at hingga Sabtu, (8-9/11).

Setelah beristirahat sebentar di Swiss-Belhotel Maleosan, tepat di Komo Luar kami langsung ditunggu oleh keturunan KH Arsyad Thawil di Manado. Mereka yang akan mengantar kami menyusuri jejak kyai kharismatik tersebut. Di komunitas muslim di Komo Luar itulah nama beliau diabadikan menjadi nama masjid.

Selepas sarapan, tujuan pertama kami adalah Kema, Minahasa utara. Sekitar 45 kilometer ke arah timur Kota Manado. Saya diantar Haji Alwi, salah satu keturunan keempat dari KH Arsyad Thawil.
Di Kema kami bertemu dengan Khalid, salah satu kerabat Alwi dari pihak ibu. Khalid mengantar kami ke Bekas Penjara Kema, tempat Arsyad Thawil mendekam selama beberapa tahun.

Letak penjara berada di tengah-tengah pemukiman penduduk, menjorok sekitar 50 meter ke dalam gank kecil. Bangunanya terdiri dari tiga ruangan. Dua ruang luasnya sekitar 2x3 meter, dan satu raung lagi 8x3 meter dengan ketinggian sekitar 10 meter dan tebal tembok sektiar setengah meter.

Bangunanya masih terawat rapi sehingga pengunjung masih bisa melihat penjara yang dibangun pada masa kedatangan Portugis itu. Konon meskipun ia berada di balik jeruji dengan penjagaan yang sangat ketat, KH Arsyad Thawil masih terlihat di beberapa kampung untuk memberikan pelajaran terhadap murid-muridnya.

“Menurut cerita dari orang tua, meskipun dalam tahanan ia juga terlihat di beberapa tempat. Mungkin itu karomahnya,” ujar Alwi.

Setelah salat Jum’at di Masjid Riyadusholihin di Kema, kami sempat berbincang dengan tokoh masyarakat setempat terkait kiprah ki Arsyad di sana. Namun tak banyak orang-orang tua yang tahu keberadaannya. Namun saya bertemu dengan seorang kakek berusia 84 tahun bernama Ahmad. Sambil bercucuran air mata ia pernah mendengar ulama tersohor itu dari ibunya.

“Kata ibu saya, waktu bayi sambil disolawatin, saya dicukur oleh KH Arsyad Thawil,” ungkapnya sambil bercucuran air mata.Namun berbeda ketika kami mengunjungi keluarga besar dari Leina Runtu, anak pendeta yang dinikahi Kyai Arsyad waktu itu. Meskipun pernah mendengar pernikahan antara Leina yang kemudian berganti nama menjadi Tarhimah dengan Tuan Haji (Begitu, ia biasa dipanggil).

Pukul 15.00 WIT, kami pun kembali ke Kota Manado. Keluarga besar Kh Arsyad Thawil yang berasal dari Gorontalo, Poso, Banten, Jakarta, Manado, dan dari daerah lainnya di seluruh Indonesia sudah menunggu di masjid Kh Arsyad Thawil di Komo Luar.

Pasalnya, sebelum esok harinya mengadakan haul, pada pukul 16.00 WIT, mereka akan berziarah di makam beliau yang dikuburkan berdampingan dengan istri tercintanya di pemakaman muslim Kota Manado. (*)

Oleh: Helldy Agustian (Bagian 1) | Source : http://beritacilegon.com/lingkungan-kita/3903-helldy-agustian-mencari-pejuang-geger-cilegon-yang-terlupakan,-kh-arsyad-thawil.html

You May Also Like

0 komentar