Belajar Wirausaha dari Proses Membuat Batik

by - 09.29

Kunjungan LP3I ke Sanggar Batik Krakatoa Cilegon

CILEGON- Sebanyak 27 Mahasiswa Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I) Kota Cilegon melakukan kunjungan ke Sanggar Batik Krakatoa Cilegon, Rabu (8/5). Dalam kunjungannya para mahasiswa melihat langsung proses produksi batik.

Sekitar pukul 13.15 WIB, remaja tanggung dengan mengenakan seragam berwarna biru datang bergerombol ke Sanggar Batik Krakatoa yang beralamat di Lingkungan Kalanganyar, Kelurahan Kedaleman, Kecamatan Cilegon. Mahasiswa semetester dua itu bukan hendak demo, melainkan akan melakukan kunjungan sesuai dengan mata kuliah Entrepreneurship atau wirausaha yang mereka pelajari. Dalam kunjungannya, mahasiswa jurusan akuntasi itu disambut  Pembina Sanggar Batik Krakatoa, Helldy Agustian yang langsung memperkenalkan berbagai motif batik yang terdapat di sanggar batik tersebut. Helldy juga mengajak mahasiswa untuk melihat secara langsung proses pembuatan batik, mula dari batik yang dibuat menggunakan canting, colek dan cetak. Selain itu, mahasiswa juga diajak untuk melihat secara langsung proses pewarnaan batik hingga terlihat menjadi menarik.

Dalam kunjungan itu juga mahasiswa diberikan kesempatan untuk membatik dengan menggunakan batik cetak guna merasakan sensasi secara langsung proses pembuatan batik yang ternyata tidak cukup mudah. Dosen Interpreneur LP3I Kota Cilegon Sev Rahmiyanti mengatakan, kunjungan mahasiswa ke Sanggar Batik Krakatoa yakni untuk melihat langsung berbagai proses pembuatan batik untuk memunculkan jiwa kewirausahaan serta minat dan bakat mahasiswa untuk mengembangkan jiwa bisnisnya. "Mahasiswa juga cukup tertarik untuk melihat secara langsung proses pembuatan batik Krakatoa. Sehingga mereka tahu ternyata membatik itu tidak semudah seperti apa yang kita lihat," katanya.

Dengan kunjungan langsung ke sanggar batik, lanjutnya, mahasiswa juga diajarkan agar menghargai setiap karya seseorang. Hal ini dikarenakan setiap karya mempunyai nilai tersendiri dan dalam membuatnya tidak mudah karena membutuhkan proses dan ketekunan. "Rasa menghargai karya seseorang itu yang sangat penting agar mereka tidak meremehkan apa yang sudah orang lain lakukan. Sehingga mahasiswa juga dituntut untuk kreatif," terangnya. Sementara itu, Pembina Sanggar Batik Krakatoa Helldy Agustian mengaku, mengapresiasi kunjungan mahasiswa LP3I itu. Dengan datangnya mahasiswa ke sanggar miliknya itu, siapa tahu mahasiswa juga kedepannya ada yang tertarik menjadi pengusaha batik.

"Semakin banyak pengusaha yang mengembangkan kearifan lokal maka tingkat kesejahteraan masyarakat sekitar juga akan semakin terberdayakan. Sehingga bukan hanya daerah Yogyakarta atau Cirebon saja yang mempunyai batik, warga Banten juga harus sudah mulai mempunyai batik sendiri yang menjadi kebanggaan warganya," jelasnya. Helldy menjelaskan, saat ini sanggar miliknya telah mempunyai sekitar 50 motif batik diantaranya seperti motif Sate Bebek Cilegon, Godong Kestele, Kue Engkak, Kue Gipang, Masjid Agung Cilegon dan Gunung Krakatau. "Dari sekian banyak motif yang paling popular adalah motif sate bebek Cilegon. Pemasarannya sudah banyak dipesan hingga ke Jakarta oleh para desainer," ungkapnya.

Sejak dibentuk pada 22 Februari 2014 lalu, Sanggar Batik Krakatoa terus dikembangkan dan telah berkontribusi terhadap pemberdayaan masyarakat sekitar dengan menciptakan lapangan kerja baru. "Saat ini banyak warga Cilegon, khususnya di Kecamatan Cibeber telah pintar membatik berbagai motif. Rencananya saya juga akan melakukan pembinaan lebih banyak lagi terhadap warga sekitar. Bahkan bila mahasiswa mau, kami juga bisa memberikan pelatihan," ucapnya. Helldy menyatakan, saat ini batik miliknya telah mendapatkan respon yang baik dari para konsumen maupun desainer luar daerah Banten. Bahkan motif batiknya banyak dikagumi karena dinilai unik. Sejak dibangun tiga bulan yang lalu, Helldy mengungkapkan omzetnya saat ini sudah mencapai lebih dari Rp 30 juta dalam satu bulan. "Motif batik yang kami angkat kebanyakan adalah nilai kearifan lokal Cilegon dan Banten. Menurut para pengamat batik ini cukup unik. Sehingga mereka banyak yang tertarik. Belum lama ini desainer dari Jakarta telah memesan sebanyak 100 kain batik Krakatoa untuk dijadikan bahan yang sudah dirancang desainer tersebut," katanya. (USMAN TEMPOSO ).

Source : Harian Banten Raya.

You May Also Like

0 komentar