Indahnya Liburan Tanpa Handphone

by - 15.13

Kepala Cabang Tunas Toyota Cilegon Helldy Agustian memegang ubur-ubur di Danau Ubur-ubur yang berada di Pulau Togean.

SERANG – Mozaik kenangan selama tinggal di Poso, Sulawesi pada kurun waktu 1980-1983 itu masih melekat dalam ingatan Kepala Cabang Tunas Toyota Cilegon, Helldy Agustian. Akhir pekan lalu, Helldy pergi ke Poso untuk mengenangnya.

Khusus kepada Banten Raya, Helldy bercerita pengalamannya selama di sana dan juga saat berada di Pulau Togean, Desa Tobil, Kecamatan Una-una, yang jauh dari radar sinyal. Perjalanan menuju Poso dilakukan Helldy pada 15 Oktober lalu pada pukul 02.45 WIB dan tiba di Bandara Mutiara Sis Al Djufri Palu, pada pukul 06.30 WIB. “Perbedaan waktu di sana dengan Cilegon berbeda satu jam. Karena Poso termasuk Indonesia bagian tengah,” kata Helldy bercerita.

Perjalanan Helldy dilanjutkan dengan silaturahmi ke rumah saudaranya, Mohammad Adam. Adam adalah keturunan KH Arsyad Thawil, tokoh geger Cilegon yang kemudian dibuang ke Manado, Sulawesi Utara.
Helldy juga mendatangi rumah karyawan Pertamina Poso yang dulu sering mengantarnya dan adik-adiknya sekolah.

"Di sana ada Om Ngadimin dan Om Darmin yang terlihat senang sekali melihat kedatangan kami. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju rumah makan Kaledo Stereo di Jalan Diponegoro Palu. Kaledo itu kepanjangan dari Kaki Lembu Donggala. Itu makanan khas Kota Palu, makanan Kaledo ini hampir sama dengan sop konro atau sop tulang daging sapi.

Dan yang menarik adalah makan sumsum yang berada di dalam tulang dengan cara disedot melalui sedotan minuman. Lebih enak lagi jika dicampur dengan bawang goreng yang terkenal di Sulawesi Tengah,” kata Helldy.

Perkembangan Kota Palu dengan masuknya pengembang besar Citraland diakui Helldy nampak terlihat semakin pesat. “Saya lihat pertumbuhan penduduk di ibukota Sulawesi Tengah ini sangat pesat. Kami juga menyempatkan diri melewati jembatan kuning sebagai simbol Kota Palu dan Patung Kuda di daerah anjungan nusantara Pantai Talise serta mengunjungi masjid kecil di dekat pantai layaknya masjid terapung,” paparnya.

Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Poso selama 5 jam dengan jalur darat dan 3 jam perjalanan dari Poso menuju Ampana ibukota Kabupaten Tojo Una-una. Helldy kemudian melanjutkan perjalanan ke Pulau Togean. Helldy tidak sendirian ke sana.

Ia ditemani tiga bule dari Belanda dan dua orang sahabatnya yakni Kurniawan dan Abraham. Abraham adalah Kepala Samsat Ampana dan mengajak rombongan untuk mempromosikan Kepulauan di Ampana yang dulu termasuk Kabupaten Poso. “Ternyata wisata lainnya di Kota Ampana yang dulu adalah bagian dari Kabupaten Poso dan sekarang sudah ada pemekaran, sangat indah.

Saya masih ingat, dulu pernah mengantar ayah main bola di sini. Dan Kota Ampana ini juga pernah dikunjungi oleh Ibu Tien Soeharto dan saat itu MC (master of ceremony)-nya adalah ibu saya, Rt Munelly,” cerita Helldy.

Di Togean, Helldy bermalam di Hotel Kadidiri Paradise. “Saat kami tiba di hotel, saya kaget, karena Pulau Togean dipenuhi oleh turis berbagai negara. Sebagian besar anak-anak muda dari Belanda, Jerman, Prancis, Amerika dan South Afrika. Jujur saya heran, dari mana mereka bisa tahu tempat terkecil di pulau yang kecil ini. Tapi mereka ada di sana dan berkumpul,” ujarnya.

Helldy juga mengatakan Hotel Kadidiri Paradise memiliki 28 kamar yang semuanya berupa cottage. Tarifnya relatif murah, yakni Rp250 ribu -Rp600 ribu per orang dan dapat tiga kali makan dengan jam makan yang sudah di tentukan.

“Di Pulau Togean ini sungguh sangat memesona. Banyak pemandangan yang jarang saya temui di sini, padahal saya sudah keliling 5 benua. Saya pikir Indonesia sangat bagus dan indah untuk menarik lebih banyak wisatawan. Tapi sayangnya belum maksimal dipromosikan, karena turis lokal yang ada di sini hanya kami bertiga,” paparnya.

Di sana, Helldy juga mengunjungi tempat Agro Wisata Dagat Molino desa Lembanato. “Dimana di sana, satu tempat yang depannya laut, namun setelah mendarat di baliknya terdapat danau yang banyak ubur-ubur. Di sini juga dikenal dengan nama danau ubur-ubur.

Namun berbeda dengan ubur-ubur laut yang gatal, di sini ubur-uburnya tidak gatal. Kamipun terjun bertiga bersama wisatawan Amerika asal Mexico, merasakan memegang dan melihat secara langsung kemudian dilanjutkan melihat keindahan ikan-ikan dan terumbu karang di lain tempat,” kata Helldy.

Selama satu hari di Pulau Togean, Helldy mengaku tidak mendapat sinyal handphone. “Karena kata pemilik Padidiri Paradise Elis memang sengaja tidak ada sinyal dan tivi, karena untuk wisatawan benar-benar menikmati alam dan tidak disibukkan dengan handphone,” imbuhnya. (AHMAD WAYANG)

Source : BantenRaya







 

You May Also Like

0 komentar