Helldy : Tragedi 9 Juli 1888 Geger Cilegon Jangan Sampai di Lupakan

by - 10.25

Cilegon - Pada hari Senin malam tanggal 9 Juli 1888, diadakanlah serangan umum perlawanan masyarakat Banten terhadap hindia Belanda yang termahsyur yang disebut dengan Geger Cilegon.

Berlangsungnya perlawanan pada waktu itu diawali dengan berkumpulnya para Kiyai yang berada di Cilegon. Dikutip dari www.suduthistorian.blogspot.com Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Arjawinangun dan pengikutnya menyerang dari arah selatan, sedangkan pasukan yang dipimpin oleh Kiyai Haji Wasid, Kiyai Haji Usman dari Tunggak, Haji Abdul Gani dan Beji dan Haji Nuriman dari Kaligandu menyerang dari arah utara.

Dengan memekikkan kalimat takbir mereka menyerbu beberapa tempatdi Cilegon. Pasukan dibagi dalam beberapa kelompok: kelompok pertama dipimpin oleh Lurah Jasim, Jaro Kajuruan, menyerbupenjara untuk membebaskan para tahanan; kelompok kedua dipimpin oleh Haji Abdulgani dari Beji dan Haji Usman dari Arjawinangun menyerbu kepatihan, dan kelompok ketiga dipimpin oleh Kiyai Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Tunggak menyerang rumah Asisten Residen. Sedangkan Haji Wasid dengan beberapa pengawalnya tetap di Jombang Wetan memonitor segala kegiatan penyerbuan.

Dalam keadaan yang kacau itu, Henri Francois Dumas, juru tulis di kantor Asisten Residen, dapat dibunuh oleh Haji Tubagus Ismail, demikian juga Raden Purwadiningrat, ajun kolektor, Johan Hendrik Hubert Gubbels, asisten residen Anyer, Mas Kramadireja, sipir penjara Cilegon, dan Ulric Bachet, kepala penjualan garam ─ semuanya adalah orang-orang yang tidak disenangi rakyat. Sedangkan Patih Raden Pennah, seorang pegawai negeri yang kebelanda-belandaan lolos dari kematian, karena dia sedang di serang pada waktu itu.

Seperti yang sudah direncanakan semula, berbarengan dengan kejadian di Cilegon ini, di beberapa tempat juga meletus pemberontakan, seperti di Bojonegara, Balegendong, Krapyak, Grogol, Mancak dan Toyomerto. Di daerah Serang, pemberontakan dipimpin oleh Haji Muhammad Asyik, seorang ulama dari Bendung, Haji Muhammad Hanafiah dari Trumbu dan Haji Muhidin dari Cipeucang. Pusat-pusat kegiatan mereka ialah Bendung, Trumbu, Kubang, Kaloran dan Keganteran.

Sehari semalam kekacauan tidak dapat diatasi, Cilegon dapat dikuasai sepenuhnya oleh pasukan “pemberontak”. Tetapi seorang babu (pembantu rumah tangga) Gubbel dapat melarikan diri ke Serang membawa kabar kejadian di Cilegon itu. Maka Bupati bersama Kontrolir dengan 40 orang serdadu yang dipimpin oleh Letnan I Bartlemy berangkat ke Cilegon dan terjadilah pertempuran hebat antara para pemberontak dengan tentara kolonial yang memang sudah terlatih baik, sehingga akhirnya kerusuhan dapat dipadamkan.

Haji Wasid sebagai pemimpin pemberontakan dihukum gantung, sedangkan yang lainnya dihukum buang; Haji Abdurahman dan Haji Akib dibuang ke Banda, Haji Haris dibuang ke Bukit Tinggi, Haji Arsyad Thawil dibuang ke Gorontalo, Haji Arsyad Qashir dibuang ke Buton, Haji Ismail dibuang ke Flores, dan banyak lagi lainnya dibuang ke Tondano, Ternate, Kupang, Menado, Ambon, dan Saparua; semua pimpinan pemberontakan yang dibuang ini ada 94 orang.

Salah seorang Tokoh Cilegon Helldy Agustian dan juga salah satu keturunan dari KH. Arsyad Thawil (salah satu tokoh Geger Cilegon yang diasingkan) dalam diskusinya dengan Tim Fokus Berita Banten Mengatakan bahwa Geger Cilegon harus menjadi peristiwa sejarah

Helldy Agustian, salah satu cicit dari keturunan KH Arsyad Thawil (salah satu tokoh Geger Cilegon yang diasingkan) mengatakan bahwa peristiwa Geger Cilegon harus dikenang sebagai peristiwa bersejarah. Syekh Mas Mohammad Arsyad Thawil al-Bantani al-Jawi atau Syekh Arsyad Thawil (lahir di Desa Lempuyang, Tanara, Serang, Banten, Januari 1851 – meninggal di Manado, Sulawesi Utara, 19 Maret 1934 pada umur 82–83) adalah ulama sekaligus pejuang dalam pertempuran Geger Cilegon 1888 di Banten. Syekh Arsyad adalah murid dari Syekh Nawawi al-Bantani, seorang ulama dari Banten yang menjadi Imam Masjidil Haram, Mekkah.

“Jas Merah, jangan sesekali melupakan sejarah. Peristiwa Geger Cilegon merupakan pemberontakan besar masyarakat terhadap Hindia Belanda, karena tanpa ada perjuangan dari para ulama di Cilegon tidak akan seperti ini, di daerah luar saja sangat tahu betul tentang sejarah 9 Juli 1888 masa kita yang masyarakat Cilegon tidak tahu bahkan lupa tentang sejarah geger Cilegon." Paparnya saat dikonfirmasi melalui Telfon seluler

Helldy yang merupakan keturunan dari pejuang geger Cilegon KH Arysad Thawil berharap agar pemerintah daerah, untuk melestarikan dan membuat musium geger Cilegon agar masyarakat Cilegon terus mengenang dan menghormati para pejuang dulu di kota Cilegon.

“Setidaknya tokoh-tokoh Geger Cilegon diabadikan menjadi nama jalan. KH Arsyad Thawil saja di tempat pengasingannya diabadikan menjadi nama masjid,” terangnya.
(Red/FBB/ajiz)

Source : http://www.fokusberitabanten.com

You May Also Like

1 komentar