Wartawan sampai Kapolres Ikut Lomba Membatik


Peringatan Hari Pers Nasional di Sanggar Batik Krakatoa

Pada Sabtu (22/2/2014) pagi, cuaca di wilayah Cibeber, Kota Cilegon dan sekitarnya begitu mendung. Rintik hujan pun sesekali turun membasahi bumi.

Meski begitu, puluhan jurnalis dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) tak surut untuk menghadiri peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang digelar Sanggar Batik Krakataoa di Lingkungan Kalanganyar, Kelurahan Kedaleman, Kecamatan Cibeber.

Acara seremonial dimulai sekira pukul 10.30 WIB setelah sejumlah wartawan kumpul. Setelah itu, Pembina Sanggar Krakatoa Hany Seviantry dan Ketua Yayasan Suara Hati Kita Helldy Agustian mengajak wartawan meninjau tempat pelatihan pencantingan batik di salah satu ruangan di Madrasah Ibtidaiyah Al-Jauharotunnaqiyyah, sekira 100 meter dari arah sanggar.

Di madrasah tersebut, puluhan ibu-ibu dan gadis remaja antusias mengikuti pelatihan dengan bimbingan instruktur yang didatangkan dari Cirebon, Jawa Barat. Di atas selembar kain putih, ibu-ibu rumah tangga dari Lingkungan Kadipaten, Seruni, Kalang Anyar, serta Pengampelan, tampak serius mencanting. Sejak lima hari terakhir, mereka mengikuti pelatihan mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB setiap harinya.

Selepas meninjau lokasi pelatihan, Sanggar Batik Krakataoa menggelar lomba membatik untuk para wartawan. Awalnya, awak media pesimistis bisa mengikuti lomba itu lantaran kebanyakan di antara mereka sama sekali belum pernah memegang canting. Apalagi, sampai membatik di atas kain. Meski demikian, mereka akhirnya mengikuti lomba.

Bertempat di teras sanggar, panitia sudah menyediakan bangku, dua lembar kain, serta canting lengkap dengan malam sebagai bahan untuk melukis di atas kain yang sudah digambar polanya. “Sungguh, saya belum pernah sebelumnya, tetapi setelah mencoba ternyata bisa juga,” kata Megawati, salah seorang jurnalis harian Banten Raya seperti yang dikutip dari Radar Banten hari ini.

Pembina Sanggar Batik Krakatoa, Hany Seviantry, mengaku sengaja mengajak para wartawan untuk bersama-sama memperingati HPN di sanggarnya. “Kami berharap pers di Cilegon bisa mengangkat sisi lain dari Kota Cilegon. Sebagai kota industri, ternyata Cilegon punya potensi lain, yakni batik,” kata istri Helldy Agustian ini.

Menurutnya, Sanggar Batik Krakatoa sengaja menggandeng Yayasan Suara Hati Kita untuk memberikan pelatihan kepada warga secara gratis. Setiap hari, ada sekira 40 warga yang datang dari lingkungan sekitar mengikuti pelatihan. Agar warga betah, setiap hari pihak sanggar dan yayasan memberikan makan siang gratis kepada peserta pelatihan. “Dari 40-an warga yang ikut, sudah ada sekitar sepuluh orang yang karyanya mulai bagus,” kata Hany.

Ketua Yayasan Suara Hati Kita Helldy Agustian menambahkan, pembuatan batik khas Cilegon itu didasari atas kunjungannya ke sejumlah daerah di Pulau Jawa. “Saya berpikir, Cirebon saja sebagai saudara tuanya Cilegon bisa membuat batik, masa iya kita tidak bisa,” jelasnya.

Ke depan, ia ingin agar batik khas Cilegon bisa berkembang ke arah bisnis. Namun, sementara ini melalui yayasannya, ia ingin memberdayakan warga agar tidak lagi menganggur. “Kita bina warga, lalu karyanya kita beli. Nanti sanggar yang akan menjual karya batik itu,” katanya.

Saat ini, kata Helldy, pihaknya sudah mendesain 50 motif batik. Uniknya, semua motif diinspirasi dari kuliner, budaya, dan tempat-tempat bersejarah di Cilegon. Sebut saja motif Sate Bebek Cibeber, Ani-ani, Godong Kestela, Kelotoh, Masjid Agung Nurul Ikhlas, Trisula, Engkak, Gunung Krakatau, serta Sate Bandeng. “Ini sengaja kita ambil untuk mempromosikan wisata kuliner dan wisata sejarah Cilegon,” katanya.

Sementara itu, Ketua PWI Cilegon Delfion Saputra mengapresiasi digelarnya lomba membatik antarwartawan se-Kota Cilegon ini. Menurutnya, batik merupakan potensi lain di Kota Cilegon yang harus terus dikenalkan secara luas. “Selama ini, kita tahu bahwa Cilegon dikenal sebagai Kota Baja dan sejarah Ki Wasyid. Menurut saya, batik adalah sesuatu yang baru,” ungkapnya.


Ketua IJTI Wibowo Sangkala juga menyambut baik acara peringatan HPN yang digelar Sanggar Batik Krakatoa. “Kalau biasanya hari pers itu kita menggelar diskusi dengan tema-tema kebebasan pers dan kekerasan terhadap pers, kali ini kita ikut lomba membatik. Ini belum pernah kita gelar sebelumnya,” kata dia.

Di tempat yang sama, Kapolres Cilegon AKBP Defrian Donimando mengaku terkejut melihat adanya potensi batik di Cilegon. “Kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia harus lebih menghargai lagi tukang batik. Malu kita, kalau beli batik canting masih menawar harga. Saya sendiri merasakan bagaimana sulitnya mencanting,” ungkapnya.

Sejumlah wartawan pun dinobatkan sebagai juara dalam lomba ini. Iyus Lesmana dari portal berita bantenhits.com sebagai juara pertama, M Ibnu Marhas dari Radar Banten juara kedua, dan Yadi dari Kiss FM meraih juara ketiga. Sementara itu, Megawati dari Banten Raya terpilih sebagai pembatik terbaik dan kategori juara favorit diraih Siska dari Harmony FM.

Source : Radar Banten | http://www.radarbanten.com/read/berita/10/17267/Wartawan-sampai-Kapolres-Ikut-Lomba-Membatik.html


You May Also Like

0 komentar