Helldy: KH Arsyad Thawil Diidolakan Bung Karno, Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional


Di Banten, tak banyak yang kenal siapa Syeikh Arsyad Thawil. Namanya tenggelam setelah Belanda membuangnya ke Menado Sulawesi Utara pasca Geger Cilegon 1888. Namun siapa sangka, di Menado ulama besar ini terus berjuang hingga ditokohkan masyarakat dan diidolakan Bung Karno.

Namanya diabadikan menjadi nama masjid dan haulnya diperingati besar-besaran. Masjid KH Arsyad Thawil tampak berbeda dengan hari biasanya setelah saya kembali dari Kema Minahasa Utara untuk menelusuri penjara dan tempat pembuangan beliau pada Jumat 8 November 2013 lalu.

Di depan masjid sudah dipasang sekitar 50 meter tenda hingga ke mulut gang menuju Jalan Jenderal Sudirman, dengan ratusan kursi yang tersusun rapi seperti sedang menunggu ratusan tamu.

 

Beberapa orang tampak sibuk memasang ucapan selamat datang di gerbang gang menuju acara. Jalan sudah dirapikan, selokan-selokan pun sudah dibersihkan. Pohon-pohon yang meranggas menutupi badan jalan sudah dipotong pula. 

Di lingkungan yang dihuni puluhan keturunan KH Arsyad Thawil itu seperti akan membuat hajat besar saja.Sebuah spanduk ucapan selamat datang yang dipasang di mulut jalan serta spanduk besar yang menempel di dinding teras masjid yang disulap menjadi panggung utama menjadi jawabannya.

Spanduk besar tersebut bertuliskan Haul ke-79 Syeikh Mas Mas Arsyad Thawil Al Bantani, sekaligus Dalam Rangka Memperingati Tahun Baru 1 Muharam 1434 Hijriyah dan Hari Pahlawan Nasional.


Di Banten nama ulama masyhur kelahiran Lempuyangan, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, tersebut seolah terlupakan. Sementara di kota ini, ia begitu dihormati, dikagumi, sebagai salah satu tokoh ulama pejuang dan pejuang ulama yang tidak hanya berjuang melawan penjajahan, tapi juga menjadi salah satu penyebar agama Islam di tanah minahasa itu. 

Murid syeikh Nawawi tersebut meninggalkan kisah yang panjang bagi orang-orang Sulawesi Utara. Pasalnya tidak hanya orang-orang yang tinggal di Komo Luar Kota Manado saja- tempat ia dan istrinya, Magdalena Runtu alias Tarhimah menghabiskan sebagian besar hidupnya – yang akan hadir, tapi seluruh keluarga dan keturunan murid-murid beliau yang tinggal di Palu, Minahasa Utara, Gorontalo, Poso, Ternate, serta daerah-daerah lainnya di Sulawesi, Jakarta dan Banten yang hadir.

Tak hanya keluarga dan sanak famili yang beragama Islam yang diundang, tapi juga yang memiliki fam (marga) Runtu juga diundang untuk datang.

 

Pada Sabtu 9 November 2013, pukul 08.00 WIT, masjid KH Arsyad Thawil sudah dipenuhi dengan solawat dan tabuhan rebana yang saling bersahutan. Meskipun acara utama belum dimulai, namun puji-pujian terhadap Allah SWT, Nabi Muhammad dan syeikh, terus bergema dari dalam masjid.

Satu demi satu tamu undangan baik dari keluarga besar maupun anak murid terus berdatangan. Dalam sekejap saja, kursi-kursi di luar masjid mulai terisi, dan puji-pujian di dalam masjid berganti tahlil.

Tepat pukul 09.30 WIT acara inti dimulai dengan diawali pembacaan manaqib (riwayat, red) beliau. Berbondong-bondong ratusan handai taulan, kerabat, dan anak-cucu murid-murid syeikh datang dari berbagai penjuru Indonesia bagian timur. Jalan sepanjang sekitar 100 meter itu berubah jadi putih.

Tokoh yang lahir di Tanara, Serang, Banten, ini memang tidak seterkenal Kyai Mojo (Pangeran Diponegoro) dan Imam Bonjol. Tapi, kiprah dan perjuangannya dalam meraih kemerdekaan Bangsa Indonesia patut diperhitungkan.

Selama dalam pengasingan itu tokoh idola bung Karno ini, beliau tetap memberikan pelajaran agama, sehingga banyak murid yang berhasil dididik.

Hingga kini, murid-murid beliau terdapat di sejumlah daerah seperti Makassar, Ambon, Ternate, Gorontalo, Tolo-toli dan Donggala. Pada tahun 1918, beliau memperoleh kebebasan kembali ke Banten, beliau pun mendapat tawaran menjadi penghulu Serang.

Namun, dengan rendah hati beliau menolak tawaran tersebut dan memilih kembali ke Manado. Beliau, akhirnya meninggal pada 19 Maret 1934 dan dimakamkan di pekuburan Lanwangirung berdekatan dengan Gusti Sekar Kedaton.

Setahun sebelum meninggal belum sempat menbangun Masjid yang kini dinamai nama beliau, KH Arysad Thawil di Komo Luar.

Kiprahnya tersebut yang membuat haul kali ini sungguh menarik. Para tokoh ulama dan tokoh masyarakat yang datang akan mengusulkan beliau menjadi pahlawan nasional dari Sulawesi Utara.

Ia tidak hanya dipandang sebagai seorang pejuang dalam pemberontakan Geger Cilegon saja, tapi juga berjuang untuk orang-orang Manado. Termasuk oma dan opa, anak cicit dari istrinya dari fam Runtu.

“Ia layak diangkat sebagai pahlawan nasional. Tidak hanya di Banten ia berjuang, tapi juga di Sulawesi Utara. Dimana ia menjadi pengurus Syarekat Dagang Islam serta berjasa menyebarkan agama Islam di sini,” ungkap Ketua Forum Komunikasi Umat Islam (FKUI) Sulawesi Utara, Haji Abdul Aziz Hullah, usai haul.

Hal itu ditegaskan juga oleh salah satu penceramah dari Manado, Ustad Yasir bin Salim. Menurutnya, Syeikh Arsyad Thawil tidak hanya milik Manado atau Banten saja, tapi sudah menjadi milik masyarakat seluruh Indonesia.

“Murid-muridnya menyebar ke seluruh Indonesia, terutama Sulawesi dan Indonesia bagian Timur. Jadi dia sangat pantas untuk menjadi pahlawan nasional. Di samping karena kiprahnya dalam Geger Cilegon 1888, tapi juga kiprahnya untuk orang-orang Manado,” ujarnya.

Dalam waktu dekat keluarga besar KH Arsyad Thawil di Manado akan mengajukan ke Dinas Sosial untuk diangkat jadi pahlawan nasional. Helldy Agustian, keturunan dari Banten yang hadir saat itu pun akan melakukan hal yang sama.

“Kami pun di sana (Banten-red) akan melakukan hal yang sama. Ki Arsyad Thawil, tidak hanya berjuang di Banten. Tapi setelah di buang ke Manado pun ia terus berjuang, dan tidak hanya berhenti saat Geger Cilegon tahun 1888 itu diberangus Belanda,” jelasnya.


Habib Bahar bin Ali bin Smith, pimpinan Majelis Pembela Rosulullah (MPR) pun menyempatan hadir dari Jakarta. Menurutnya KH Arsyad Thawil sejak dahulu juga sudah menjadi pahlawan bagi umat Islam, dan sangat layak dianugerahi pahlawan nasional.

“Jika tidak ada beliau, tidak ada yang mengajari para habaib dan alim ulama. Sehingga ilmunya pun tidak akan sampai kepada kami,” katanya. (*)

Oleh: Helldy Agustian (Bagian 2 - Habis ) | http://beritacilegon.com/lingkungan-kita/3917-helldy-kh-arsyad-thawil-diidolakan-bung-karno,-diusulkan-jadi-pahlawan-nasional.html

Menelusuri Jejak Sang Pejuang Geger Cilegon yang Terlupakan

You May Also Like

0 komentar